Tuesday, September 28

Midnight's Hum

Because I'm truly. Thought I'm deeply and goin' to madly. I love to love you. My whole heart. My everything. Sometimes I hate myself when I'm away from. you. Let me be your breath left. Let me be a beautiful part in your life. Let me be. Read more...

Tuesday, August 31

I Got Some From A Song

Now I know we said things. Maybe our relationship. Isn't as crazy as it seems.
Maybe that's what happens. When a tornado meets a volcano.
All I know is,
I love you too much. Don't you hear sincerity
in my voice when I talk? Told you this is my fault. Look me in the eyeball..
There will be no next time. I apologize. But your temper's just as bad
as mine is. I know you ever love somebody so much. But that was yesterday. Yesterday is over. It's a different day.


All I wanna know is..

"AM I STILL YOUR DIAMOND?"
Read more...

"Dan.."

Yang tertulis ini adalah maafku. Atas penahananku terhadapmu selama kau di sisi. Aku akan mengangguk ,jika seruanmu mengatakan aku untuk diam.
Aku tahu mereka adalah metamorfosa darimu. Aku hanya ingin beritahu bahwa aku tengah dipeluk gelap ,begitupun dengan suara hujan diiringi langit serak yang menjadi latarku. Kuciptakan sungai kecil yang mengalir deras di bawahnya, kuciptakan dari buliran-buliran air mataku. Andai engkau tahu.

Sadar bahwa hujan tak pernah mendengar. Sadar bahwa langit mustahil bertelinga. Maka ,di sinilah aku dan suaraku melebur. Tak ada yang mendengar aku mengerang sejadinya binatang yang terlempar tombak oleh sang pemburu. Tak ada yang mendengar aku terisak habis seperti ada yang mencengkram keras bulatnya hatiku. Sakit.Sakit ini ada di ulu jantung batin. Percuma hati borkomat-kamit dengan mencaci realita yang hina ini.

Hidup telah membawaku berkelana jauh daripada tujuh tahun yang lalu. Entah akan berbeda atau tidak jika saat ini aku melangkah hingga seratus yard lagi. Pikiran dan segalaku kian hari kian menua. Dan kekhilafanku sebagai insan memang teramat jauh dari kesucian. Hanya saja kuinginkan satu hal, lihat aku.

Di mana sisi benarku bagimu? Di mana letaknya setiap kata yang kau dengar, setiap sikap yang kau lihat, yang kau bilang itu salah?
Demi Tuhan jika aku hidup pun adalah suatu kesalahan terbesar. Aku rela kau singkirkan. Bahkan untuk menyayat hatiku pun tak aku ragukan lagi. Kau lulus.
Kini teruskan, sayat setiap detil kulitku. Tancaplah hingga kau rasakan tulangku yang kian rapuh. Tarik setiap urat nadiku yang menjalar di sini. Ambilah jantungku jika kau mau. Ambilah hatiku jika kau ingin menghancurkannya. Total.


Wahai Raja dari segala Kerajaan Hati, Demi SemestaMu aku berseru.. Utus semua manusia surga untuk sucikan aku. Karena aku tengah menangis. Ini murni air mata yang menyungai dari kedua hulu yang sama. Tubuhku kaku setelah kuangkat kedua tangan untuk meminta.
Kalian pasti tak akan paham. Ikuti saja ke mana sekumpulan abjad ini membawamu.

Aku akan ambil jeda sebentar..

Aku tengah bercerita tentangku dan salahku. Aku remuk seketika menyadari dosa ini akan Kau dan segala yang hidup terutama mereka. Dia.
Seiring bumi yang terus berotasi, berevolusi, bersama-sama tawaf dengan seluruh komponen jagat raya ini.. Seikhlas benda mati yang ditakdirkan tak bernyawa. Aku meminta maaf.. Maaf darimu. Di sana kau berdiri dengan sunyimu, kau bungkam seluruh perkataan yang semestinya aku dengarkan. Kau tidak tahu betapa kesunyian telah membunuh seluruh kinerja tubuhku.

"Dan, aku mati tidak seketika. Selamat tinggal.. Kunantikan selamat jalan ketika bumi telah memelukku."
Read more...

Sunday, June 13

Randomness

Hai blog! *senyumtanpadosa*

Gak enak yah kamu dicuekin berbulan-bulan? *tertawapuas*
Saya juga sama. Sakit yah!?
Dan nasibnya si N73 sekarang juga udah hampir mau sekarat aja tuh dia. Sehari 3x saya banting. Saya lempar sengaja. Ya terserah anda mau percaya atau tidak. Karena memang ini perilaku yang bodoh. Saya banting, eh saya ambil lagi. Tapi sekarang enggak, saya anggurin dulu di bawah. Kasian banget yak! Liat layarnya aja kayaknya udah memelas-melas gitu dan bilang "Oh, Tuanku ,berhentilah menyiksaku.."
Ah, tapi itu gak penting. Karena saya rasa si N73 terlalu bodoh untuk tidak menampilkan pesan yang saya inginkan, apalagi suara telfon yang saya nantikan. She such a damned thing!
Malah, waktu saya meraung-raung sendiri (yah emang lagi gila ceritanya) ,teks yang muncul malah dari si asu. Namanya juga asu. Ya kelakuannya juga sama asunya.

"Dena, aku kemaren abis beli boneka Mickey gede banget.."

Nah loh, penting emang ya dikasih tahu ke saya? HAHA! Dunia aja ikut ketawa TAUGAK?!
Read more...

Friday, April 30

Fiksi dari Yang Terbuang

Setitik air mata menetes, disusul dengan ujung-ujungnya yang menyambung. Dan kini aku menangis kian deras. Tak kutemukan satu lap ketulusan menawarkan ketenangan. Walau aku menampik segala warna cahaya dan tetap bersemayam dalam gelap. Jemariku kian lincah mengikuti irama mulut yang berdzikir. Lalu kuputuskan untuk bermunajat ,semoga Tuhan cepat mengambilku dari segala hidupku. Semoga Tuhan membuat aku sakit sampai sedemikian hancurnya dan aku terlepas dari belenggu begitu pun terang dan kelamnya dunia. Pengecut. Mungkin kata itu lebih layak ditujukan padaku. Hanya saja aku kini benar-benar tak cukup tenaga lagi untuk menahan. Aku pertaruhkan apa pun selama ini tapi selalu hampa akan arti.

Seperti saduran yang terkutip ,

"Aku berjalan sendirian
Ketika bulan sedang bersinar di kubah langit
secercah cahaya berpendar di gurun pasir
Tiba-tiba cahayanya tertutup awan
Bumi menjadi gelap gulita dan kelam
tak seorang pun dapat melihat cahaya,
yang lebih jauh dari tempatnya berpijak.

Aku tahu aku sedang menghadapi bahaya besar
tapi aku hanya akan berperang melawan penguasa lalim
yang ingin menendangku dengan kakinya
seperti menendang jalan semut
atau jika ingin mencengkeramku
di antara taring-taringnya.."
**

Sang penyair Mesir melebarkan sedikit demi sedikit celah-celah pintu hatiku. Mengetukku dengan serangkaian kata. Hingga muncul irama mendayu-dayu ,suara-suara yang menggaruk hati, sampai malam bermetamorfosis menjadi sangat biru dan tibalah kini waktuku. Waktu yang tepat .Waktunya seekor serigala keluar dari gua tenangnya untuk berlari, meraung-raung seperti dahsyatnya tangisku lalu memburu seperti aku semakin gila untuk membunuh diriku sendiri. Mencabik-cabik anak anjing seperti aku asyik menyayat-nyayat tanganku yang setengah rasanya telah beku.

Barangkali, salahku karena aku belum cukup memahami. Salahku karena bersikap terlalu dini. Salahku karena belum cukup mengimbangi. Salahku karena masih terperangkap dalam satu sensasi. Sampai baunya tak harum lagi begitu rasa juga kian menawar hingga dijadikan alasan untuk berpaling.

Karena aku tidak menginginkan hidup yang seperti ini. Pada akhirnya lajur lintas otakku semakin tak bisa kuatasi. Kuputuskan untuk mensubstitusi kedua jalan itu, hanya kenyataannya sia-sia. Yang kuhadapi sekarang tak berarah tak berbelok. Satu kenyataan pahit, karena yang kutemukan hanya kebuntuan. Aku sudah terlalu lelah untuk menjernihkan segala jalan pikir. Semua yang ada ,dari segala yang seharusnya ada hanyalah mati. AKU INGIN MATI! SUDAH CUKUP ,AKU INGIN SAKIT! Biarkan kenyataan bicara bahwa aku kini terbuang.
Read more...