Setitik air mata menetes, disusul dengan ujung-ujungnya yang menyambung. Dan kini aku menangis kian deras. Tak kutemukan satu lap ketulusan menawarkan ketenangan. Walau aku menampik segala warna cahaya dan tetap bersemayam dalam gelap. Jemariku kian lincah mengikuti irama mulut yang berdzikir. Lalu kuputuskan untuk bermunajat ,semoga Tuhan cepat mengambilku dari segala hidupku. Semoga Tuhan membuat aku sakit sampai sedemikian hancurnya dan aku terlepas dari belenggu begitu pun terang dan kelamnya dunia. Pengecut. Mungkin kata itu lebih layak ditujukan padaku. Hanya saja aku kini benar-benar tak cukup tenaga lagi untuk menahan. Aku pertaruhkan apa pun selama ini tapi selalu hampa akan arti.
Seperti saduran yang terkutip ,
"Aku berjalan sendirian
Ketika bulan sedang bersinar di kubah langit
secercah cahaya berpendar di gurun pasir
Tiba-tiba cahayanya tertutup awan
Bumi menjadi gelap gulita dan kelam
tak seorang pun dapat melihat cahaya,
yang lebih jauh dari tempatnya berpijak.
Aku tahu aku sedang menghadapi bahaya besar
tapi aku hanya akan berperang melawan penguasa lalim
yang ingin menendangku dengan kakinya
seperti menendang jalan semut
atau jika ingin mencengkeramku
di antara taring-taringnya.." **
Sang penyair Mesir melebarkan sedikit demi sedikit celah-celah pintu hatiku. Mengetukku dengan serangkaian kata. Hingga muncul irama mendayu-dayu ,suara-suara yang menggaruk hati, sampai malam bermetamorfosis menjadi sangat biru dan tibalah kini waktuku. Waktu yang tepat .Waktunya seekor serigala keluar dari gua tenangnya untuk berlari, meraung-raung seperti dahsyatnya tangisku lalu memburu seperti aku semakin gila untuk membunuh diriku sendiri. Mencabik-cabik anak anjing seperti aku asyik menyayat-nyayat tanganku yang setengah rasanya telah beku.
Barangkali, salahku karena aku belum cukup memahami. Salahku karena bersikap terlalu dini. Salahku karena belum cukup mengimbangi. Salahku karena masih terperangkap dalam satu sensasi. Sampai baunya tak harum lagi begitu rasa juga kian menawar hingga dijadikan alasan untuk berpaling.
Karena aku tidak menginginkan hidup yang seperti ini. Pada akhirnya lajur lintas otakku semakin tak bisa kuatasi. Kuputuskan untuk mensubstitusi kedua jalan itu, hanya kenyataannya sia-sia. Yang kuhadapi sekarang tak berarah tak berbelok. Satu kenyataan pahit, karena yang kutemukan hanya kebuntuan. Aku sudah terlalu lelah untuk menjernihkan segala jalan pikir. Semua yang ada ,dari segala yang seharusnya ada hanyalah mati. AKU INGIN MATI! SUDAH CUKUP ,AKU INGIN SAKIT! Biarkan kenyataan bicara bahwa aku kini terbuang.
Read more...
Friday, April 30
Fiksi dari Yang Terbuang
Thursday, March 25
From Me to My K
Buatmu,
Akan kuceritakan dari titik paling awal, kau ingat? Ketika kita memutuskan untuk menjadi Ratu dan Pangeran di negeri mimpi kita. Kau menghampiri dengan kuda putih paling cantik di seluruh jagat. Oh tunggu, aku juga ingin kau mendengarkan. Mendengarkan dengan telinga-telinga hatimu.
Baiklah, dan ketika itu aku rasa kaulah yang benar-benar buat aku hidup. Karena beratus tahun aku tinggal, tiada satu pun yang mengakuiku. Aku merasa inilah awalku. Denganmu.
Walau aku tak pernah bertanya dari mana kamu datang, walau aku tak pernah bertanya bagaimana awal mula perjalananmu hingga tiba di tempatku ini. Itu tidak masalah bagiku. Saat itu. Karena aku pikir inilah waktuku untuk bahagia. Tuhan pasti mentakdirkan kali ini untuk aku dan kau.
Inilah kisah kita berlangsung. Berhari-hari hingga berganti bulan. Karena aku yakin ini akan indah dan akan menjadi cerita terindah. Setiap malam kau selalu datang dengan setangkai bunga yang kau sembunyikan di punggungmu. Entah itu pink, putih, merah, ungu. Apa pun kau pernah berikan untukku. Dan bagiku yang putih itu paling cantik. Aku selalu menerima kedatanganmu dengan tangan terbuka dan hati seluas semesta. Kadang kala kita memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman utara. Juga tidak kau biarkan kudamu mengikuti kita. Yang ada hanyalah kau dan aku. Berjalan bersama.
Waktu demi waktu bergulir dan aku termakan banyak kisah. Dan kurasa aku mulai merenungkan diri di balik sudut kamarku. Kurasa selama ini aku tidak pernah mendapat sesuatu yang adil darimu. Pernah ketika aku bercerita dan kau malah asyik dengan pedang barumu. Atau kau terus asyik dengan cerutu tuamu. Walau aku tak pernah ingin tahu awal mula kau menjadi pecandu taar dan nikotin. Bagiku kau telah cukup mengerti aku. Bahkan ketika aku memutuskan untuk berdiam, kau malah mengeluhkan itu semua. Kau bilang aku tidak mendengarkanmu. Lihat? Betapa aku ingin engkau mengerti. Setidaknya mengetahui.
Lantas hal-hal apa yang kau tahu dariku? Sudah cukup banyak-kah? Bahkan kau sepertinya tidak tahu bahwa aku benci dengan sekumpulan asap yang buatku sulit bernafas. Apa mungkin kau lupa aku ini tidak begitu bersahabat dengan itu semua?
Lalu tentang tidurmu, tidurmu bukan untuk aku. Seringkali aku mendengar kau mengigau. Dan bukan namaku yang kau ucap tapi nama lain. Hey, dan nama itu milik sahabatku!
Bahkan ketika kau terbangun ,kau melupakan semuanya. Karena sebelumnya kita larut dengan mulut yang mengamuk. Pun itu pertama kalinya kau memanggilku dengan kata yang lebih pantas ditujukan pada binatang jalang. Wahai kekasih, apa kau mulai buta? Siapa di hadapanmu kau sungguh tidak menyadari, aku ini wanita yang masih erat dengan harga diri dan tidak pernah aku biarkan siapa pun membuatku terasa rendah hanya karena ulahku. Pernahkah berfikir? Ulahku yang mana yang hampir membunuh hatimu? Aku yakin itu tidak pernah kulakukan.
Hal-hal kecil yang kukira terlalu mikro ukurannya bisa sampai membuatmu membabi buta terhadapku. Lantas hatimu itu seperti apa? Aku lelah denganmu yang sungguh temperamental ternyata. Padahal aku kira kau tidak seburuk ini. Kau selalu aku agung-agungkan pada siapa pun. Tapi kali ini aku terlanjur kecewa. Berkali-kali pedangmu ditebaskan ke arahku dan tidak sedikit darahku keluar karenamu. Dan kini ratusan pilku pun tak cukup melawan rasa sakitku.
---
Tepat ketika matahari menguncup aku selalu mengunci diri dan mencoba merelaksasi seluruh jiwaku. Seluruh amarah ,kecewa dan benci yang membatin. Lalu diperangi dengan segenap hati yang tulus menyayangi. Aku tak tahu yang mana akan menang karena mereka sama-sama kuat pada posisinya. Aku selalu minta pada Tuhan agar ia matikan aku saja ,agar ia hentikan kisah ini. Aku sudah cukup lelah.
Hanya tidak lama kau datang kembali. Dengan mawar putihmu dan secarik kertas bertuliskan kata maaf. Aku abaikan itu. Namun kau masih memaksa dengan menggenggam kedua tanganku. Cukup. Kukira ini tidak akan berarti lagi. Maafmu semakin meruncingkan pisau-pisau yang tertancap jauh di hati kecilku. Dan itu terlalu perih untuk aku rasakan. Kau bahkan masih berdiri tegak walau sejuta kesalahan ada di pundakmu. Perlukah aku ingatkan kembali beberapa dosamu padaku?
Belum cukupkah kau hidup dengan hati yang terbelah dua, untukku dan untuknya. Aku tegaskan aku hanya perlu hati yang utuh yang dengan sederhana mencintaiku. Bukan gaya hidup yang terlalu sederhana sehingga kau bisa terus jadikan aku seperti seekor sapi perahmu.
Aku mohon,
mulailah mendengarkan..
Aku mohon,
mulailah merasakan..
Aku mohon,
mulailah memikirkan..
Aku mohon,
mulailah menyaksikan..
Aku mohon,
mulailah menyadari..
Sadari aku yang sudah terlalu menderita. Sadari aku yang tak sempat kau hargai.
Beberapa kesempatan yang aku taburkan tak pernah kau tuai dengan baik. Kau tidak pernah benar-benar menjaganya. Dan Tuhan pun menggerakan hatiku ,perlahan-lahan ia hilangkan seluruh kasih yang terpatri. Ia buat kau seburuk mungkin di mata hatiku. Bukan untuk selamanya. Hanya untuk aku kali ini. Karena Tuhan benci jika aku memusuhi. Biarkan Tuhan mengumpulkan segala tentangmu di otak hatiku yang sesekali aku tengok karena rindu. Tapi bukan untuk diambil kembali. Bukan untuk diulangi.
Maka dari itu, pergilah. Melangkahlah semakin jauh. Rangkaikan kembali sayap-sayap kita yang belum selesai. Ingat aku hanya sebagai salah satu bab di pelajaran hidupmu. Aku harap suatu hari kau benar-benar menjadi seorang Pangeran yang hidup dengan kemuliaan hatinya. Bukan sebatas berkuda lalu membawa jutaan pedang.
--
Terakhir kali kita melangkah bersama, dan itu pula saatnya kita berpisah. Kita berpisah selamat tinggal. Kita berpisah selamat jalan.
Read more...
Teruntuk Raja Semesta
Tepat di bawah titik langit aku bersemedi
Temanku angin
Temanku gesekan-gesekan dedaunan yang menari-nari
Di sinilah muncul satu larik puisiku
Dariku untukMu
Ada ilham yang merasuk
inilah yang Tuhan titipkan untukku
Mereka berkata tenang
Coba katakan bahwa aku terlalu berlebihan
Mereka yakinkan hati siapa pun tidak akan pergi
Aku tidak terlalu percaya dengan hati yang telah dikontrak mati
Karena tak pernah aku temukan
Bahwa setiap insan akan mati berdua
Tapi sendiri
Sendiri
Lalu masihkah kita ingat janji mutlak Tuhan?
Yang bahkan kita tidak pernah sekali pun mengkajinya
Tapi aku percaya untaian ayat-ayatnya
Itu menuntunku hingga nanti aku menuju jembatanku
Dan sudahkah kita memanggil Tuhan ketika kita rapuh?
Belum
Tuhan bilang suaraku pun jarang ditujukan padanya
Karena itu, Tuhan.. inilah aku hambaMu
Karena itu, Tuhan.. inilah aku abdiMu
Karena itu, Tuhan.. inilah aku serta pengakuanku
Karena itu, Tuhan.. inilah aku dengan sejilid doaku
Karena itu, Tuhan.. inilah aku bersama sujudku
Karena itu, Tuhan.. inilah aku dengan segenap jiwaku
Antarkan aku dengan roda-roda-Mu, Tuhan..
Read more...
Monday, March 22
Fragile of My

Sunday, March 21
Her
I remember what you wore on the first day
You came into my life
And I thought hey
You know this could be something
Cause everything you do
And words you say
You know that it all takes my breath away
And I am left with nothing...
Bukan tidak mungkin pabila suatu hari, ada seseorang yang begitu miris ketakutan dengan terus memegang erat kepalanya yang sesak akan beban, atau sesekali memeluk kedua kakinya dengan bersandar pada kedua lutut yang menonjol. Lalu bersimpuh. Berbisik lirih. Dengan doa-doa pada sela-sela tangisnya. Ayat yang diucapkan memang terpatah-patah, bagaimana pun ia yakin bahwa Tuhan tidak memperdulikan itu semua, karena Dia tahu yang sebenarnya terucap di hati kecil para insannya.
Berlanjut hingga pukul 2 ,walau ia sebenarnya terus bertaruh dengan dingin yang setia mendekapnya. Kubah langit di malam hari yang baru disadari bahwa warnanya tidak segelap yang ia pikirkan. Langit malam akan terlihat terang pabila kita mencoba untuk benar-benar menelanjangi mata kita. Begitu angin bicara.
Tak ada satu pun yang mematahkan keheningan malam saat itu. Hanyalah isakan tangis yang frekuensinya terlalu kecil untuk mereka dengar. Mungkin saja sampai pada semut-semut yang sedang asyik memanggul makanannya, atau cicak-cicak yang terlalu nyaman dengan dinding coklatnya.
Dan akhirnya ritual malam terhentikan saat terdengar suara suci memanggil dari arah barat yang berseru pada setiap umat bahwa inilah saatnya bagi mereka bertemu dengan Sang Tuhan. Ia bersemangat dengan tampilan yang cermin bilang itu rapi.
--
Ia tersadar bahwa pagi buta seperti inilah yang selalu ia takutkan. Pagi yang memulai segala hari hingga sampai pada ujung malam. Pagi yang akan menjawab semua takdirnya pada hari yang menjalar cepat seperti rerumputan nakal di halaman rumahnya. Ia tidak perduli apakah itu terik atau kabut. Yang terbesit hanyalah ,bahwa ia tidak ingin berlari terlalu jauh. Saat ini.
Walau ia tahu bahwa ia akan perangi segala hari. Menapakkan seluruh kakinya pada tempat-tempat yang tanpa sadar tidak semestinya untuk ia datangi.
Bila aku tahu,
kau berada pada ujung harapmu
Akan aku buatkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada itu
Bila engkau tahu,
Aku kini dihantui esok hari
dan akan kuminta kau tetap di sini tanpa sedikit pun hendak pergi
Dituliskan sebagai catatan pagi. Kemudian ia buka lagi pada lembar kedua setelah itu. Kosong. Belum ada tinta apa pun yang menodai. Saat itu pula ia meneruskan,
Kau tahu, bagaimana rasanya ketika kita jauh dari yang kita harapkan?
Akankah kau merasa hilang?
Apakah kau akan sepenuh hati yakin bahwa kau ini sebenarnya sedang dekat?
Cinta yang kau sematkan, apakah itu cukup?
Fondasi hati yang kau bangun, akankah terkikiskan angin?
Air mata yang kau jatuhkan, apakah masih itu akan berarti?
Tuhan, aku mau semua ini bukan hanya sekejap mataku. Aku hanya butuh ketetapan. Tetapkan lukisan hidup-Mu hanya untukku.
Mereka tidak sadar bahwa aku sebenarnya ada pada kegilaan yang akut.
Mungkin perkataanku ini tidak wajar, Tuhan.
Dan, berkatilah aku dengan cara-Mu.
Dewasakan aku dengan jalan-Mu.
Langkahkan aku dengan kaki-Mu.
Tabahkan aku dengan hati-Mu.
Itu saja.
Setelah dirasa cukup ,ia berhenti. Lalu semua hening kembali. Sejuta sel otaknya kembali bekerja dan membawanya rekreasi. Ia ingat kali pertama berjumpa dengan sosok pria yang kelewat diam. Ia ingat satu hal yang pertama kali pria itu tanyakan kepadanya, dan bukan tentangnya, tapi seseorang yang lain. Datar dan singkat. Alasan dari mengapa yang tepat adalah karena ia bukan siapa-siapa saat itu. Bukan siapa-siapa.
Pertemuan kedua, pria itu berbalut kaus hijau. Hijau seperti saat kali pertama bertemu. Tanpa sahut dan pertanyaan. Mereka seakan berada di tempat berbeda walau sebenarnya sama. Karena pada saat itu, ia masih bukan siapa-siapa.
Pertemuan ketiga, ia ingat pria itu dibalut oleh sweater abu. Tipis. Tidak begitu tebal kelihatannya. Berjam-jam mereka berjalan bersama hingga malam larut dan berubah menjadi pagi awal. Dan tetap, tanpa sahut juga pertanyaan. Karena ia masih bukan siapa-siapa. Untuknya.
Lalu memori berputar dan membawa ia ke dua tahun berikutnya. Setelah pertemuan pertama, kedua, dan ketiga. Mereka dipertemukan kembali. Dan ia berjalan menghampiri pria itu. Masih tanpa sahut dan tanya. Pria itu berlaku dingin. Ia kira setelah dua tahun lamanya langit akan membawa perubahan. Dan ,tidaklah itu benar,karena semua masih terasa sama. Bahkan kali ini terlihat seperti mereka belum pernah bertemu sama sekali. Ia sangat menyayangkan bila ingat bahwa pria itu pernah bertanya sesuatu padanya. Dan setelah dua tahun ini, ia sama sekali kecewa, karena tak pernah ia dengar kembali serangkaian suara yang pria itu tujukan untuknya. Yang ia pikirkan, bahwa pertanyaan pria itu kini seperti pertanyaan pertama dan terakhir untuknya. Ironis.
--
Terhenti. Pikirnya membawa ia kembali pada kehidupan yang nyata saat ini. Yang nyata adalah bahwa semua keadaan lalu kini sudah begitu terbalik. Semua indah pada saatnya dan jauh dari yang ia pernah pikirkan. Warna langit kini biru terang dibuatnya dan mentari semakin bersahabat di pagi harinya. Semua hanya karena ia kini telah memiliki. Berawal dari pertemuan yang tak diprediksi adanya. Pria itu kembali dengan sendirinya, dengan cara yang sungguh jauh dari bayangan. Cendera mata ringan nan mungil yang selintas tidak banyak arti. Namun dari situ lah semuanya berawal.
--
Pada bagian akhir, inti dari segala kisahnya adalah bahwa ia tengah hidup dalam makna bersama yang berharga. Dan tak ada satu pun boleh merenggut. Karena ia kini memiliki. Apalah arti kehadiran bila tak ada kepergian. Dan apalah arti mendapatkan bila tak ada melepaskan. Itu saja sebagian hal mutlak yang selalu ia takutkan. Berharap Tuhan berikan cara yang indah pada akhirnya.
Read more...
